Senin, 29 Juli 2013

'Leaving on the Jet Plane' 30 menit lebih awal

30 Juli 2013
     Hari ini saya sudah 4 hari  berada di Kupang. Huff. Terasa nyaman dan menyenangkan kembali ke kota asal. Namun saya masih merasa sedikit terusik dalam hati ketika tanggal 26 Juli 2013 lalu meninggalkan Surabaya. Seseorang yang saya kasihi harus saya tinggalkan untuk sekian lama. Dan dia pun nanti akan meninggalkan Indonesia untuk sekian lama pula. Pada malam sebelum saya meninggalkan Surabaya, saya dan dia akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan. Aaaaah. Mungkin teman-teman yang membaca berpikir 'Brill bodoh sekali. Sudah tau dia mau pergi jauh dan lama, masih nekat membangun hubungan.' Atau mungkin ada yang berpikir 'Ah. Nanti juga cepat putus'. Saya pun awalnya berpikir begitu. Namun saya ingat ketika ada kata bijak yang mengatakan 'Awal dari hubungan yang bertahan adalah komitmen yang kuat.'
    Saya pun berpikir bahwa, 'Ya, tidak ada salahnya saya mencoba bertahan untuk dia. Toh, saya juga sudah menemukan seseorang yang bisa mengerti saya dan nyaman dengan saya. Untuk apa saya harus mencari lain'. Kami pun memutuskan untuk menjalin hubungan. Dan kami membangun sebuah komimtmen, bukan janji. Kalau sepasang kekasih akan berpisah, biasanya mereka akan membuat janji bahwa akan saling melakukan kontak yang intens, tidak akan melupakan, dan akan kembali secepat mungkin.
     Saya tidak. Saya tidak mau berjanji seperti itu, karena saya sadar saya manusia dan hal seperti itu akan sangat sulit dijalani. Tapi saya membangun komitmen bahwa apapun yang terjadi, selama apa pun saya menunggu, saya akan membuat itu cepat. Entah dengan cara apa. Dan untuk ke depan, saya pun akan melakukan yang terbaik untuk dia di HARI INI. Dengan begitu, kami pun tidak terlalu pusing untuk memikirkan hari esok. Ketika kami berbuat yang terbaik untuk seseorang yang kami cintai di hari ini, itu akan membuat hubungan tetap bertahan.
     Saya ingin curhat mengenai satu momen yang menurut saya betul-betul membuat saya terpukul dan dilema.
     Tanggal 26 Juli. Waktu menunjukan pukul 07.00 WIB ketika saya meninggalkan kontrakan saya menuju
bandara Juanda. Saya tiba di Juanda jam 08.00 WIB dan melakukan check in. Waktu menunjukan pukul 09.25 WIB ketika saya berada di lounge. Dia memberi kabar bahwa dia akan ke Juanda untuk bertemu saya terkahir kali. Saya senang bercampur cemas, karena jam 10.35 WIB saya harus naik ke pesawat. Apakah waktunya masih sempat? Jangan sampai nanti dia ngebut lalu kecelakaan? Dia datangnya dengan siapa? Kalau macet bagaimana? Dan lain-lain. Namun saya optimis kami bisa bertemu. Saya pun mengiyakan dan dia langsung menuju Juanda. Ketika jam 09.55 WIB, saya menelpon dia dan dia mengatakan sudah dekat di Juanda. Saya bergegas keluar ruang tunggu. Ketika sampai di tangga menuju lantai bawah, tiba-tiba ada panggilan bahwa pesawat yang menuju ke Kupang akan segera berangkat. Penumpang diharapkan naik ke pesawat. Saya melihat jam saya. ini baru 10.05!! Harusnya masih 30 Menit lagi!! Saya bingung dan berhenti sejenak. Sekitar 2 menit kemudian, saya mendengar lagi bahwa panggilan terakhir ditujukan kepada penumpang yang akan berangkat ke Kupang. Saya pun langsung berbalik ke arah gate 6 dan berlari sekencang mungkin. Benar. Ternyata saya penumpang terakhir yang masuk pesawat.
     Saya langsung menguhubungi dia dan mengatakan saya sudah di pesawat. Saya tidak tahu lagi bagaimana saya harus memberi tahu dia. Dia sudah berada di Juanda dan saya harus naik pesawat 30 menit lebih awal. Gila. Itu mungkin dilema yang paling besar yang saya rasa. Wuuuh. Tapi mungkin memang itu rencana Tuhan. Kita tidak bisa menolaknya.
     Yaaah. Dan akhirnya 4 hari sudah kami berpisah. awalnya berat, namun kami menyesuaikan. Semoga komitmen yang saya bangun bisa saya implementasikan. Amin.
      Ini sekedar curhat, Jadi kalau ada pembaca yang tidak menemukan manfaatnya, yaaaaa... dibuat bermanfaat saja. hehe. Selamat berjuang Brill..

Rabu, 24 Juli 2013

3 hari menemukan rasa, 4 tahun Menjadi halangan

     Hari ini, 25 Juli 2013. Hari terakhir saya akan bertemu seorang wanita. Mungkin belum tepat kalau disebut hari terakhir, karena dia juga tidak akan mati besok. Hehe. Ya, saya cukup menyesal karena sudah sebulan lebih saya mengetahui wanita itu, namun saya hanya mempunyai 3 hari kesempatan bertemu. Saya tidak tahu kenapa. Tapi saya merasa sedikit menyesal.
     Awal mula perkenalan kami melalui satu media sosial. Anaknya ramah, asik. Sudah beberapa kali saya diajak bertemu, namun entah kenapa saya selalu berhalangan. Sampai pada hari selasa, 23 Juli baru saya bertemu dengannya. Kesan pertama saya mengatakan, dia manis. Serius. sangat manis. Kedua, dia tidak sombong. Orang cheerful. Ketiga, dia itu orangnya spontan. Tidak basa basi banyak. Terbuka. Yah, mengasyikan.
     Tapi sayangnya, dalam waktu dekat dia akan melanjutkan studi ke China, dan dia akan berada disana 4 tahun, bahkan lebih. Jujur, saya sedih mendengar itu. Saya merasa bahwa saya telah menemukan seseorang yang membuat saya nyaman, betah, gampang tertawa, dan bisa dibilang, saya mulai suka padanya. Tapi Tuhan mungkin berencana lain.
     Terlalu menyesakkan untuk saya ketika saya hanya punya kesempatan 3 hari bersamanya. Sungguh menyesakkan. Saya ingin terus bersama dia. Terus bersama, walau ada beberapa perbedaan di antara kami yang mungkin tidak bisa disamakan. Saya belum tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama dengan saya. Namun saya ingat ketika tanggal 24 Juli malam dia berkata bahwa terlalu cepat waktu untuk kita bareng. Dia sendiri pun ingin lebih lama.
      Aaaaaah. Saya seperti mengalami dejavu ketika saya harus ditinggalkan lagi. Namun saya tetaplah saya, dan dia tetaplah dia. Kami tak bisa terus bersama karena dia harus mengejar cita-cita dan saya pun begitu. Apalagi dia nanti ke luar negeri. Tentu kami tidak akan bisa melakukan kontak yang intens. Satu harapan saya, semoga ketika dia datang kembali, saya masih mengenal dia seperti sekarang, dan dia masih mengenal saya seperti sekarang.

Senin, 22 Juli 2013

68 Tahun menunggu kesejahteraan dari Undang-undang.

23 Juli 2013. Halo selamat siang teman-teman. Kembali lagi dalam blog saya setelah sekian lama tidak berjumpa. Kali ini saya menulis mengenai Undang-Undang, yah ini adalah pengalaman yang saya petik dari kegiatan bersama sebuah LSM Jepang di Bali Barat beberapa bulan terakhir. 
    
       Seperti yang kita tahu, di Indonesia sekarang hampir tiap tahun muncul undang-undang baru. Undang-undang mengenai kehutanan, perairan, dll. Sekarang, mari kita lihat. Ambil contoh paling dekat saja mengenai undang-undang perlindungan hutan. Apakah Undang-undang itu berhasil menjaga hutan di Indonesia, paling kurang setahun saja? Saya menjawab, Tidak. Mengapa saya berani menjawab tidak? Karena, apakah Hutan di Indonesia setiap tahun berkurang atau bertambah? Ya, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan membuat kita mencari fakta sendiri. Dan ketika saya mencoba melihat lebih dalam, ternyata yang diatur dalam Undang-undang tersebut adalah mengenai perlindungan spesies, batas wilayah, batas pengambilan, dll. Apakah kita sadar, bahwa terlalu banyak undang-undang di Indonesia yang membahas 'Benda Mati'?.
      Teman, mari kita mencoba berpikir. Sebenarnya yang mau diatur itu, hutannya, atau manusia? Yang mau dilestarikan itu hutannya, atau perilaku manusianya? Pohon di hutan tidak punya tangan dan kaki yang bisa membuat mereka berpindah tempat. Apakah kita perlu mengaturnya? Tidak. Lalu, ada ungkapan yang mengatakan 'Hutan terjaga, Masyarakat sejahtera'. Nyatanya, undang-undang kehutanan itu membuat masyarakat MENDERITA karena tidak bisa menikmati hasil hutan yang ada di sekitar mereka. Lalu, bagaimana menjaga hutan sekaligus menyejahterakan masyarakat?
      Pertama, dari pola pikir. Pemerintah banyak memiliki pola pikir bahwa 'Masyarakat adalah perusak, pelaku, dan TERDAKWA' dari undang-undang yang mereka buat. Apakah betul? Apakah undang-undang tersebut mengatur kesejahteraan rakyat? Kalau mengatur kesejahteraan rakyat, tentu rakyat tidak akan melanggarnya.
      Kedua, apakah masyarakat itu mengerti mengenai undang-undang tersebut dari diri sendiri, ataukah tahu dari orang lain? Saya mencoba memberikan sebuah contoh kecil. Ketika anda mengeluh kepada teman anda bahwa anda merasa pusing, sering kesemutan, dan cepat lelah, lalu teman anda segera menyuruh anda ke rumah sakit karena menurut dia anda diabetes, apakah anda langsung pergi? Saya yakin tidak. Anda pasti masih berpikir 'Ah. Dia kan hanya menduga. Nanti saja'. Lalu anda ke apotik untuk membeli obat, dan mengecek darah anda, diketahui bahwa anda diabetes. Saya yakin, anda akan langsung pergi ke dokter.
      Dari ilustrasi tersebut, kita tahu bahwa terjadi banyak sekali pelanggaran undang-undang, karena masyarakat tidak MENGETAHUI SENDIRI dan MENGALAMI manfaat dari undang-undang tersebut sehingga mereka berpikir 'untuk apa mengikuti itu'. 
     Mungkin anda sudah bisa menyimpulkan yang saya maksud. Dan kajian ini bukan hanya berlaku untuk Undang-Undang saja. Inilah yang sebenarnya dinamakan pemberdayaan masyarakat. Membiarkan masyarakat mengalami dan mencari tahu sendiri apa yang mereka butuhkan, lalu membantu mereka bertindak untuk menyelesaikan masalah mereka.
       Jadi, apakah Undang-Undang yang dibuat dengan latar belakang 'kesejahteraan rakyat' itu sudah bisa memenuhi kapasitasnya sebagai pembawa kesejahteraan, atau malah mengekang dan membuat masyarakat semakin terkekang? Ya... Anda bisa menjawabnya sendiri. 
      Sekian. Mungkin sambungan mengenai pemberdayaan masyarakat akan saya tulis di bagian berikutnya. Terima kasih. :)

Kamis, 14 Februari 2013

Puisi ke-2

Setelah menonton film CLICK dan MY MOM-A LONG VISIT, saya mendapat inspirasi untuk membuat puisi ini. Semoga berkenan. :)


Ketika termenung sendiri di dalam ruang sepi
Teringat lagi akan masa dimana aku berada dalam sebuah zona
Zona dimana aku mendapat semua kenyamanan dan keinginan
Di saat itu aku tak terlalu mengerti arti pengorbanan orang tuaku
    Saat semua telah berlalu
    Kini aku berada di sebuah zona
    Dimana semua kenyamananku diambil dan keinginanku dikubur
    Disaat kesepian dan kegelisahan mulai meringkus hati
Kucoba terus melawan itu
Tapi tetap saja hal itu membebani pikiranku
Aku berpikir ini pilihan yang salah, fatal
Namun hati kecil ini menegur, 'Hei. Ini rencana Tuhan. Bukan rencanamu'
    Aku terus menjalani ini hingga aku lelah
    Disaat itu, aku teringat sebuah syair 'di doa ibuku, namaku disebut'
    Air mata ini jatuh, mengalir tanpa aku sadar
    Aku kembali teringat akan orang tuaku
Aku teringat disaat aku dalam zona nyaman
Tak pernah aku berpikir untuk menghargai keringat orang tuaku
Tapi disaat ini, semua pikiran dan batinku terbuka
Aku menangis, menangis dalam keheningan
    Aku sadar ternyata hidup ini sungguh berat bila dijalani
    Ternyata pengorbanan orang tuaku begitu hebat untukku
    Air mataku sekarang menjadi saksi dan bukti tekadku
    Untuk bisa membuat mereka tersenyum suatu saat nanti
Untuk membuat mereka bangga berkata 'itu anakku'
Untuk membuat mereka memelukku dan berkata 'kami bangga kepadamu'
Untuk membuat teman-teman mereka berkata 'betapa beruntungnya kamu mempunyai anak sepertinya'
Dan untuk membuat mereka tenang ketika mereka berada di masa tua mereka
    Tuhan, restuilah aku.

Rabu, 13 Februari 2013

Just share-Dongeng Motivasi


Dahulu kala ada seorang petani miskin yang mesti berjuang keras untuk memajukan kehidupannya. Namun meskipun ia terus bekerja dan berhati-hati dalam melakukan pengeluaran, ia tetap saja tak mampu menyisihkan penghasilannya untuk ditabung, selalu saja pas-pasan.
Suatu malam, dalam tidurnya ia bermimpi ada suara yang berkata: "Jika ada sesuatu di dunia ini yang begitu sulit untuk kamu dapatkan, maka suatu waktu hal itu akan muncul begitu saja di hadapanmu." Dan petani inipun terbangun dari tidurnya. Dia kemudian berharap bahwa ketika ia bangun di suatu pagi, ia akan menemukan harta yang berlimpah di rumahnya sendiri. Dengan begini, tidak diragukan lagi bahwa kekayaan itu memang dimaksudkan untuknya.
Beberapa hari berlalu, ketika ia sedang dalam perjalanan, bajunya tersangkut pada semak-semak berduri yang tumbuh di sekitar ladang, Tak ingin kejadian yang sama terulang, dia pun bermaksud membabat habis semak belukar itu. Namun ketika ia mencabut akar dari semak itu, di bawahnya ia menemukan sebuah kendi. Dibukanya tutup kendi itu, dan alangkah kagetnya si petani ketika mengetahui bahwa di dalam berisi begitu banyak kepingan emas. Pada mulanya hati petani miskin ini berteriak girang, namun setelah beberapa menit berpikir, ia kemudian berkata: "Oh aku memang ingin sekali menjadi kaya. Tapi aku telah meminta agar harta itu muncul di gubuk kecilku, akan tetapi aku justru menemukannya di ladang ini. Oleh karenanya aku takkan mengambil kendi ini berisi emas. Kendi ini tidak ditakdirkan untukku."

Lalu petani itu pun meninggalkan kendi di tempat ia menemukannya dan kembali berjalan pulang. Sesampainya di rumah ia pun menceritakan penemuannya kepada istrinya. Istrinya pun marah besar atas kebodohan sang suami meninggalkan harta itu di ladang. Dan ketika si petani tidur, istrinya pun pergi ke rumah tetangga dan mengatakan segalanya. "suami saya yang begitu bodohnya justru meninggalkan harta itu di ladang dan bukan membawanya pulang. Pergi dan ambillah harta itu untukmu dan bagilah denganku."

Tetangga itu pun sangat senang dengan saran ini, dan tak menunggu lama ia pun menuju ke tempat yang dimaksud oleh istri petani. Disibaknya semak-semak belukar, dan ia memang menemukan kendi itu masih berada disana. Diangkatnya dan ditengoknya ke dalam kendi itu. Namun alangkah panik dan marahnya ia ketika melihat bahwa kendi itu ternyata tidak berisikan kepingan emas seperti yang diceritakan oleh istri petani melainkan penuh dengan ular berbisa.

"Perempuan licik. Dia pasti hendak menjebakku. Dia berharap aku memasukkan tanganku ke dalam hingga aku digigit dan mati keracunan oleh bisa ular." pikirnya marah.

Jadi iapun kembali menutup kendi itu dan membawanya pulang. Dan pada saat tengah malam tiba, dengan diam-diam dia mendatangi rumah petani miskin tetangganya. Dia melihat sebuah jendela yang terbuka. Dengan sigap dipanjatinya. Dikeluarkannya ular-ular berbisa itu dari dalam kendi, dan iapun kembali pulang.

Ketika fajar tiba, petani miskin yang pertama kali menemukan kendi tersebut, bangun untuk memulai hari. Ketika ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air, dilihatnya setumpuk koin emas berhamburan di bawah jendela rumahnya. Dalam hati ia mengucap rasa syukur sembari berkata: "Akhirnya aku bisa menerima kekayaan ini, mengetahui bahwa mereka pasti ditujukan untukku, karena mereka muncul di rumahku sendiri, seperti yang aku harapkan!"

***

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cerita dongeng diatas?
Tentu saja bukan tentang mimpi si petani dimana harta itu tiba-tiba akan datang dengan sendirinya.
Tidak bukan itu.

Tapi pelajaran tentang bagaimana kita ini manusia haruslah pandai-pandai dalam melihat dan mencermati sebuah kesempatan yang ada. Namun telaahlah saat kita mengambil kesempatan itu sendiri, jangan sampai apa yang kita ambil itu merupakan hak milik orang lain. Seperti misalnya si petani miskin yang menolak mengambil kendi berisi emas saat ia menemukannya di ladang. Dia dapat melihat itu memang merupakan sebuah kesempatan, tapi dia merasa kesempatan itu memang belum diperuntukkan untuknya. Dia menemukan emas itu di ladangnya, bisa saja emas itu milik orang lain.

Memang ada sebuah pepatah 'siapa cepat dia yang dapat', tapi apakah anda bisa hidup bahagia dengan bersenang-senang di atas derita orang lain?

Namun pada saat kesempatan itu telah datang, dan anda yakin kesempatan itu memang diperuntukkan untuk anda, maka jangan tunggu lagi. Segera raihlah kesempatan itu.

Oleh karenanya, selalu bukalah mata anda. Tengoklah sekeliling anda, kesempatan itu mungkin kini ada di depan anda hanya saja anda kurang melihatnya. :)

Minggu, 10 Februari 2013

Coba buat puisi 11 Feb 2013

Aku terbangun di pagi ini, dan mulai memikirkanmu yang jauh disana
Disambut sapaan senyum mentari dan suara gemerisik dedaunan
Teringat lagi senyuman yang kau berikan kala kita bertemu di sekolah
Senyuman yang seakan menjadi penguat hati ini disaat lemah
    Aku memandangmu dimalam hari, tak pernah berhenti tersenyum engkau padaku
    Dengan isyarat hati yang kuat kau siratkan rasa sayangmu untukku
    Semua harapan yang kau berikan ku terima dengan sepenuh hati
    Ya, sepenuh hati
Tak pernah terbayangkan semua kan terjadi
Kau tinggalkanku dalam keheningan kini
Tanpa kata, tanpa suara
Kau pergi begitu saja
    Saat kusadar, aku telah ada didalam sebuah ruang
    Ruang yang ternyata adalah ruang hatiku
    Ketika dulu damai, tenang, dan terisi oleh harapan
    kini sepi, sunyi, gundah
Kini kau telah ada yang memiliki, jalan kita berbeda
Namun adakah harapan tuk kelak kita bersama?
Ya, aku tak pernah berhenti mengharapkan itu
Dan semoga kelak bertemu, kau mengerti aku dan perasaan ini

Jumat, 08 Februari 2013

Penghujung 08 Februari

Judulnya alay ya? :D ya memang begitu karena saya menulis ini pada pukul 11.14 PM WIB di tanggal 8 Februari 2013. Hari ini saya merasa lebih baik dari kemarin. Puji Tuhan kegundahan saya terjawab. dan sekarang yang jadi masalahnya, kenapa saya semakin kurang? Huff. Melelahkan menjalani pilihan ini. Ingin rasanya kembali ke masa lalu, tapi waktu tak mungkin mengijinkan. Kembali mengingat lirik lagu D'Masiv, "Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik ", membuat saya menjadi lebih tegar lagi. Sejujurnya saya mulai bosan merasa hidup. Tapi saya terus yakin bahwa hidup adalah anugerah terbesar Tuhan, jadi saya jalani. Tetap semangat (mencari cinta juga ._.)!!!!