Hari ini saya sudah 4 hari berada di Kupang. Huff. Terasa nyaman dan menyenangkan kembali ke kota asal. Namun saya masih merasa sedikit terusik dalam hati ketika tanggal 26 Juli 2013 lalu meninggalkan Surabaya. Seseorang yang saya kasihi harus saya tinggalkan untuk sekian lama. Dan dia pun nanti akan meninggalkan Indonesia untuk sekian lama pula. Pada malam sebelum saya meninggalkan Surabaya, saya dan dia akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan. Aaaaah. Mungkin teman-teman yang membaca berpikir 'Brill bodoh sekali. Sudah tau dia mau pergi jauh dan lama, masih nekat membangun hubungan.' Atau mungkin ada yang berpikir 'Ah. Nanti juga cepat putus'. Saya pun awalnya berpikir begitu. Namun saya ingat ketika ada kata bijak yang mengatakan 'Awal dari hubungan yang bertahan adalah komitmen yang kuat.'
Saya pun berpikir bahwa, 'Ya, tidak ada salahnya saya mencoba bertahan untuk dia. Toh, saya juga sudah menemukan seseorang yang bisa mengerti saya dan nyaman dengan saya. Untuk apa saya harus mencari lain'. Kami pun memutuskan untuk menjalin hubungan. Dan kami membangun sebuah komimtmen, bukan janji. Kalau sepasang kekasih akan berpisah, biasanya mereka akan membuat janji bahwa akan saling melakukan kontak yang intens, tidak akan melupakan, dan akan kembali secepat mungkin.
Saya tidak. Saya tidak mau berjanji seperti itu, karena saya sadar saya manusia dan hal seperti itu akan sangat sulit dijalani. Tapi saya membangun komitmen bahwa apapun yang terjadi, selama apa pun saya menunggu, saya akan membuat itu cepat. Entah dengan cara apa. Dan untuk ke depan, saya pun akan melakukan yang terbaik untuk dia di HARI INI. Dengan begitu, kami pun tidak terlalu pusing untuk memikirkan hari esok. Ketika kami berbuat yang terbaik untuk seseorang yang kami cintai di hari ini, itu akan membuat hubungan tetap bertahan.
Saya ingin curhat mengenai satu momen yang menurut saya betul-betul membuat saya terpukul dan dilema.
Tanggal 26 Juli. Waktu menunjukan pukul 07.00 WIB ketika saya meninggalkan kontrakan saya menuju
bandara Juanda. Saya tiba di Juanda jam 08.00 WIB dan melakukan check in. Waktu menunjukan pukul 09.25 WIB ketika saya berada di lounge. Dia memberi kabar bahwa dia akan ke Juanda untuk bertemu saya terkahir kali. Saya senang bercampur cemas, karena jam 10.35 WIB saya harus naik ke pesawat. Apakah waktunya masih sempat? Jangan sampai nanti dia ngebut lalu kecelakaan? Dia datangnya dengan siapa? Kalau macet bagaimana? Dan lain-lain. Namun saya optimis kami bisa bertemu. Saya pun mengiyakan dan dia langsung menuju Juanda. Ketika jam 09.55 WIB, saya menelpon dia dan dia mengatakan sudah dekat di Juanda. Saya bergegas keluar ruang tunggu. Ketika sampai di tangga menuju lantai bawah, tiba-tiba ada panggilan bahwa pesawat yang menuju ke Kupang akan segera berangkat. Penumpang diharapkan naik ke pesawat. Saya melihat jam saya. ini baru 10.05!! Harusnya masih 30 Menit lagi!! Saya bingung dan berhenti sejenak. Sekitar 2 menit kemudian, saya mendengar lagi bahwa panggilan terakhir ditujukan kepada penumpang yang akan berangkat ke Kupang. Saya pun langsung berbalik ke arah gate 6 dan berlari sekencang mungkin. Benar. Ternyata saya penumpang terakhir yang masuk pesawat.Saya langsung menguhubungi dia dan mengatakan saya sudah di pesawat. Saya tidak tahu lagi bagaimana saya harus memberi tahu dia. Dia sudah berada di Juanda dan saya harus naik pesawat 30 menit lebih awal. Gila. Itu mungkin dilema yang paling besar yang saya rasa. Wuuuh. Tapi mungkin memang itu rencana Tuhan. Kita tidak bisa menolaknya.
Yaaah. Dan akhirnya 4 hari sudah kami berpisah. awalnya berat, namun kami menyesuaikan. Semoga komitmen yang saya bangun bisa saya implementasikan. Amin.
Ini sekedar curhat, Jadi kalau ada pembaca yang tidak menemukan manfaatnya, yaaaaa... dibuat bermanfaat saja. hehe. Selamat berjuang Brill..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar